Selasa, 13 November 2018

Lentera Metropolitan (Part1)




           Arrgghh…!!! Lagi dan lagi aku menggeram kesal, sudah berjuta juta situs kubuka dan sudah ribuan deretan kalimat kubaca, tapi tak ada satupun yang situs yang kucari, yeah emang terdengar lebay tapi emang seperti itu nyatanya. Pulang kuliah sampai sore, tugas menumpuk, kena marah dosen, bisnis kecil kecilan yang sering ngadat, ditambah ruwetnya kehidupan metropolitan membuat kepalaku terasa akan meledak, yahh lengkap sudah kehidupanku yang amat sangat indah ini. Mungkin terus-terusan memikirkan segala keindahan hidupku ini akan membuat jiwa ragaku tak berdaya, so, aku memutuskan untuk menikmati cucuran air dari shower kamar mandi kos-kosan tempat separuh hidup kuhabiskan selama menjadi seorang mahasiswi di Universitas Indonesia.

            Mimpi indahku terputuskan oleh para penghuni perut yang sudah memberontak. Rupanya, setelah mandi aku ketiduran dengan posisi laptop menyala. Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. Aku berjalan lunglai menuju dapur dengan mengabaikan sapaan temanku yang sedang menonton televisi, entahlah bagaimana dia mengatur scenario hidupnya sebaik mungkin, dia seorang mahasiswa satu kampus denganku, dia termasuk kategori mahasiswi yang sering nongki di cafe kampus tak seperti aku yang lebih sering ndeprok di lantai aula kampus dengan laptop menyala dan buku bertebaran dimana mana, aku tak pernah melihatnya begadang mengerjakan tugas, tapi anehnya dia termasuk golongan murid kesayangan dosen-dosen dan merupakan mahasiswi yang pintar. Ah sudahlah, membahasnya membuatku semakin pusing, lebih baik aku mencari cari makanan di dapur. Sialnya para penghuni kosan ini tidak ada yang berbaik hati meninggalkan makanannya. Aku harus keluar mencari makan, langkah ku berhenti ketika jari jari manisku akan menyentuh gagang pintu, sekelebat pikiran tentang ruwetnya Jakarta menyiutkan niatku untuk mencari makan. Dan sepertinya aku memang ditakdirkan menjadi anak kos sebenarnya, aku kembali memakan makanan ala-ala anak kos, tak perlu kusebutkan makanan apa, kutebak kalian pasti sudah tahu. Sst diam, tak perlu tertawa mengejekku.

            Kosan sudah sepi, tak terdengar celotehan teman-teman seperjuanganku, jalanan ibu kota nampaknya juga sudah tak terlalu bising, orang-orang yang mencari nafkah pun sudah beranjak meninggalkan zona yang mengekangnya untuk kembali berkumpul dengan keluarga mereka. Seperti malam biasanya, lampu lampu jalanan ibu kota menyala untuk menerangi kota besar ini dan menerangi mimpi-mimpi sejuta umat yang menjadi harapan hari ini dan menjadi sebuah tantangan untuk diwujudkan esok hari.
Bersambung...

13 Nov 2018
Tinggalkan jejak...

30 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Wehhh, bagus ih. Aku suka cara kamu nulis udah rapi dan epik, lanjut terus ya... semangat!!!

    BalasHapus
  3. Woowwwww apik apik sangar by:amelong :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran mbaca ga nih?
      Cerita ttg kita soon ya haha

      Hapus
  4. jadilah pengarang crita yg hebat tapi bukan pengarang drama

    BalasHapus