Kamis, 29 November 2018

Sebuah Argumen



Aroma tanah tercium olehku
Kaca dihadapanku mulai berembun
Dentuman jarum jam bertabrakan dengan jatuhnya air hujan
Hal yang sejak dulu kusukai sekalipun sudah berulang-ulang terjadi.

Kata orang
Hujan itu romantis
Ia tetap kembali meskipun tau rasanya jatuh berkali-kali

Tidak, argumen itu tidak selalu benar
Kata orang
Bukan hujan yang romantis
Tetapi bumi yang terlalu sayang dan cinta

Karena bumi selalu menerima hujan kembali, sekalipun hujan datang dan pergi sesuka hati

Akan tetapi,
Aku tak peduli dengan debatan itu
Hujan dapat membawa kebahagiaan tersendiri

Terkadang, aku membenci hujan
Mereka selalu dapat memutar memoriku
Kesedihan yang ingin kulupakan tayang kembali
Seakan mereka ingin menyaksikan kehancuran yang akan kualami

Tidak, aku tak boleh menyalahkan hujan
Ini hanyalah masalah hati
Cinta yang seenaknya datang dan pergi yang seharusnya kubenci

Orang beragumen, cinta itu indah
Aku tak setuju, justru yang kurasakan kini hanya kerapuhan akibat cinta

Oh tidak, lagi lagi aku menyalahkan

Selalu ada alasan, mengapa rasa itu hinggap
Tanpa permisi dan tanpa ketukan
Sekalipun hanya sesederhana tatapan mata, atau senyum pada detik pertama.

Sering kudengar istilah 'Friendzone' dan 'Gantung',
Keduanya sama-sama menyakitkan
Oh, aku turut berduka untuk kalian yang mengalami itu

Namun, soal ku berbeda
Menaruh hati pada seseorang yang sama dengan sahabat adalah hal yang paling menyakitkan

Adakah yang turut berduka denganku?

Bagaimanapun, aku tetap memilih mundur
Bukan tak berani ataupun cupu
Aku hanya menjaga jalinan persahabatan ini
Ya, itu tak terlalu sulit*

Hal yang sulit ialah ketika mendengar para pencomblang beraksi
Hati ini serasa tersayat
Memaksakan munculnya matahari dibalik awan pekat yang bergerombol.

Namun, aku selalu berhasil menciptakan lukisan setengah lingkar pada bibirku.

Aku berhasil membuat cerita kelam itu sebagai kisah masa lalu yang tak akan terulang kembali.

Hujan mereda
Meninggalkan tetesan tetesan air
Membuat coklat hangat ditanganku terasa begitu nikmat untuk diseduh

Lagi dan lagi mereka pergi sesuka hati
Aku hanya tertawa melihat ketragisan itu

Oh aku salah, ini bukan hal tragis
Mereka meninggalkan pelangi yang begitu indah
Tanpa ragu matahari menampakkan dirinya.

Sekelebat perasaan damai kurasakan
Seketika ucapan syukur kuucapkan.








6 komentar: