Selasa, 29 Januari 2019

Hantaman Sang Laut (Last)

           

            Gadis kecil itu berlari-lari sembari bersenandung ria. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka sampai di tempat itu.
            Sedari matahari bersinar terik hingga senja, keluarga kecil itu tidak beranjak dari pantai, tempat impian Kayla yang kini telah terwujud. Kayla senang, begitu pun dengan orang tuanya, orang tua mana yang tidak bahagia melihat kegembiraan buah hatinya? Namun, di sisi lain, ada sebuah perasaan yang bertolak belakang. Bagaimana bisa, ketika hati ibunya sedang senang justru ada perasaan risau bagai menyelimuti. Tetapi, ucapan tasbih mampu menenangkan sedikit perasaan tak enak yang sedang dirasakannya.

                                                                       ~~~~~~~
       
            "Kayla sayang, ayo kita pulang" ajak ibunya
            "Yahh,, Kay masih mau disini" jawabnya sembari memanyunkan mulut kecilnya
            "Yasudah, kita disini sampai jam 8 ya" akhirnya sang ayah berujar
            "Asiikkkk makasihh" Senyuman gadis itu nampak tak akan pernah dilihat lagi oleh ibunya.
            Ayah melihat arlojinya, sudah pukul 8 lebih, akan tetapi Kayla masih tak mau pulang.
Ibu nya masih memaksa agar Kayla mau menuruti perintahnya untuk pulang, akhirnya Kayla menuruti. Mereka masih berkemas, menjumputi sampah snack mereka dan memberesi mainan Kayla yang dibawa ke pantai.
            Namun, seperti mimpi buruk. Ombak yang awalnya terlihat seperti ombak biasa dari jauh, rupanya bukan ombak yang ramah, bukan ombak yang suka berbasa-basi. Cepat, sungguh cepat, ombak itu mendekat ke arah keluarga kecil itu, ayahnya yang ingin menggandeng istri dan Kayla, buah hatinya, tidak mampu meraih tangan mereka. Berpisah, ya, mereka berpisah dalam sekejap. Ombak itu menyapu dengan santai, tidak, Kayla tidak setuju dengan kalimat itu, ombak itu telah menghantamnya dengan keras, sangat keras.
            Menghantam seluruh yang ia punya, orang tuanya? Iya, Kayla sekarang bagai bocah malang yang sendiri, kenangan? Oh mungkin tidak, memori Kayla masih baik, Kayla masih bisa mengingat kenangan itu semua, namun Kayla yakin kenangan buruk akan menutupinya, lalu kebahagiaan? Tak perlu ditanya, kebahagiaan Kayla lenyap begitu saja.
           Rasanya seperti mati, tak berdaya. Gadis kecil itu tidak bisa berpikir dengan otak pintarnya bagaimana cara agar ia selamat. Ia hanya mengikuti kemana arus itu berjalan, menabrak beberapa benda-benda, tak ada yang bisa ia genggam. Namun, seperti keajaiban, badannya menabrak batang pohon, dengan lemas dan mata terpejam, tangannya meraih batang itu. Ia pasrah.

                                                         ~~~~~~~~
         
            Kayla si gadis kecil yang malang membuka matanya perlahan. Ia tak mengerti, kiranya ia sudah tak bernyawa, ternyata dirinya masih bisa bernafas. Ia berada di tenda, Kayla mendudukan badannya yang lemas dan mengintip ke luar. Betapa terkejutnya, semua hancur menjadi berkeping-keping. Namun, ia langsung teringat orang tuanya. Dengan susah payah, Kayla berlari keluar dan berteriak mencari kedua orang tuanya. Ia berlari tanpa arah, air mata terjun bebas dari mata sayu nya.
             Beberapa hari setelahnya, Kayla masih dirawat di rumah sakit. Terkadang, seorang suster akan membacakan beberapa dongeng. Namun, untuk saat ini ia menolak, ia memilih ke taman rumah sakit tanpa ditemani siapapun.
             Kayla duduk di kursi, matanya menatap lurus ke depan, tatapannya kosong. Ia rindu pada orang tuanya, Kayla tidak tau jalan pulang ke rumahnya. Ia tidak tau, bagaimana dia akan hidup, dia tidak tau siapa yang akan mau merawatnya. Kayla masih terlalu kecil, ia hanya bisa pasrah dan berdoa.
           Tiba-tiba seseorang wanita mendekatinya, memberinya coklat sembari tersenyum manis. Wanita itu mengajknya bercerita, Kayla senang bisa mengobrol dengannya. Rasa sedih Kayla perlahan hilang.

                                                          ~~~~~~~~~

              "Kay, bengong aja daritadi. Lagi mikirin apa?"
              "Eh nggak kok bun, hehe" Jawab Kayla kepada ibunya. Ia tersadar dari lamunannya.
Kayla tersenyum, ia bersyukur, Allah telah memberi wanita yang saat ini menjadi ibunya. Ibunya benar-benar mencintainya walaupun Kayla bukan anak kandungnya, Kayla kecil mungkin berpikir, masa depannya tak akan indah. Namun Kayla yang sekarang, dapat merasakan kebahagiaan hidupnya telah ia dapatkan.


Tamat

29 Januari 2019












Tidak ada komentar:

Posting Komentar