Rabu, 06 Maret 2019

Lentera Metropolitan (Last)



           Aroma khas tanah basah tercium olehku, aroma yang sejak dulu kusukai dan membuat otakku merasa refresh. Berulang-ulang kuhembuskan nafas, dan bersyukur pada Tuhan. Aku sama sekali tak menyangka akan lolos seleksi. Terkadang ketika memandang yang lain, nyali ku menjadi ciut, sampai saat ini pun aku masih merasa tak sejajar dengan mereka.

            Ketika pengumuman itu mengatakan aku lolos, itu artinya aku harus siap dengan segala sesuatu yang akan kuhadapi. Seorang bocah metropolitan yang segala kebutuhannya tersedia, akan merasakan betapa banyak kisah perjuangan dari keringat-keringat yang mereka hasilkan.

            Aku tak habis pikir kenapa mengikuti seleksi itu dan akhirnya dapat lolos, dan tapi aku bukan bocah bodoh yang tidak mengerti apa konsekuensi jika aku lolos mengikuti seleksi. Tinggal dipelosok dengan segala kesusahan fasilitas yang akan aku rasakan. Ketika membaca artikel mengenai keadaan daerah terpencil itu membuat aku langsung mengatakan tidak, namun ada satu hal yang membuatku menjadi yakin untuk mencoba mengikuti seleksi itu, susahnya akses jalan menuju sekolah mereka dan keadaan kelas yang tidak layak tidak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut ilmu.

            Aku menjadi ingin bertemu dengan malaikat-malaikat kecil itu, membayangkan senyum dan tawa mereka yang penuh keikhlasan, mendengarkan cerita-cerita lugu mereka, mendengarkan mimpi-mimpi mereka, dan melihat kesucian hati mereka.

            Aku yakin, hal itu akan menjadi lentera hatiku yang telah temaram, dan hatiku yang telah tertutup oleh kerasnya hidup di metropolitan. Yang kuat akan menang, dan yang lemah akan tertindas mungkin tidak lagi berlaku disana.

*****

            Aku tersenyum puas sembari memandangi novel yang kugenggam saat ini. Angin sore yang berhembus membuat rambut hitam ku melambai lambai dan membuat padi-padi menggoyang-goyangkan tubuhnya.

            Jelasnya, aku berhasil menyelesaikan satu novel dan tanpa kusangka ada penerbit yang melirik novelku ini. Aku bukan penulis hebat, apalagi penulis yang mampu benar-benar membawa pembaca ikut hanyut dalam ceritaku. Tetapi, kisah hidupku bersama anak-anak hebat itu membuatku mampu merangkai kata-kata, membuat deretan kalimat menggambarkan cerita-cerita lugu mereka.

            Saat ini novelku mampu menjadi best seller, dan satu minggu sebelum aku pulang ke kampung halamanku, aku membicarakan dengan produsen film yang ingin mengangkat ceritaku, dengan senang hati ku terima tawaran itu. Abak dan  Amak juga setuju, terlebih lagi Uda yang juga penulis.

            Terima kasih banyak malaikat-malaikat kecilku, Uni sangat senang dapat berbagi cerita dengan kalian. Terima kasih atas pelajaran hidup yang sangat berharga. Teruslah jadi anak hebat dan jadilah lentera diantara kegelapan.

Sherina Salma Zubir
Solok, Sumatera Barat.



7 Maret 2019
#Ayomenulis






Tidak ada komentar:

Posting Komentar