Aroma
khas tanah basah tercium olehku, aroma yang sejak dulu kusukai dan membuat
otakku merasa refresh. Berulang-ulang
kuhembuskan nafas, dan bersyukur pada Tuhan. Aku sama sekali tak menyangka akan
lolos seleksi. Terkadang ketika memandang yang lain, nyali ku menjadi ciut,
sampai saat ini pun aku masih merasa tak sejajar dengan mereka.
Ketika pengumuman itu mengatakan aku
lolos, itu artinya aku harus siap dengan segala sesuatu yang akan kuhadapi.
Seorang bocah metropolitan yang segala kebutuhannya tersedia, akan merasakan
betapa banyak kisah perjuangan dari keringat-keringat yang mereka hasilkan.
Aku tak habis pikir kenapa mengikuti
seleksi itu dan akhirnya dapat lolos, dan tapi aku bukan bocah bodoh yang tidak
mengerti apa konsekuensi jika aku lolos mengikuti seleksi. Tinggal dipelosok dengan
segala kesusahan fasilitas yang akan aku rasakan. Ketika membaca artikel
mengenai keadaan daerah terpencil itu membuat aku langsung mengatakan tidak,
namun ada satu hal yang membuatku menjadi yakin untuk mencoba mengikuti seleksi
itu, susahnya akses jalan menuju sekolah mereka dan keadaan kelas yang tidak layak
tidak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut ilmu.
Aku menjadi ingin bertemu dengan
malaikat-malaikat kecil itu, membayangkan senyum dan tawa mereka yang penuh
keikhlasan, mendengarkan cerita-cerita lugu mereka, mendengarkan mimpi-mimpi
mereka, dan melihat kesucian hati mereka.
Aku yakin, hal itu akan menjadi
lentera hatiku yang telah temaram, dan hatiku yang telah tertutup oleh kerasnya
hidup di metropolitan. Yang kuat akan menang, dan yang lemah akan tertindas
mungkin tidak lagi berlaku disana.
*****
Aku tersenyum puas sembari
memandangi novel yang kugenggam saat ini. Angin sore yang berhembus membuat
rambut hitam ku melambai lambai dan membuat padi-padi menggoyang-goyangkan
tubuhnya.
Jelasnya, aku berhasil menyelesaikan
satu novel dan tanpa kusangka ada penerbit yang melirik novelku ini. Aku bukan
penulis hebat, apalagi penulis yang mampu benar-benar membawa pembaca ikut
hanyut dalam ceritaku. Tetapi, kisah hidupku bersama anak-anak hebat itu
membuatku mampu merangkai kata-kata, membuat deretan kalimat menggambarkan
cerita-cerita lugu mereka.
Saat ini novelku mampu menjadi best
seller, dan satu minggu sebelum aku pulang ke kampung halamanku, aku
membicarakan dengan produsen film yang ingin mengangkat ceritaku, dengan senang
hati ku terima tawaran itu. Abak dan
Amak juga setuju, terlebih lagi Uda yang juga penulis.
Terima
kasih banyak malaikat-malaikat kecilku, Uni sangat senang dapat berbagi cerita
dengan kalian. Terima kasih atas pelajaran hidup yang sangat berharga. Teruslah
jadi anak hebat dan jadilah lentera diantara kegelapan.
Sherina Salma Zubir
Solok, Sumatera Barat.
7 Maret 2019
#Ayomenulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar